Sebagai warga Bandung Barat, nama Gunung Putri Lembang memang sudah tak asing lagi di telinga saya. Terlebih saya sudah beberapa kali tektok ke gunung yang hanya memiliki ketinggian 1.587 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Bukan hanya cocok untuk pendaki pemula, tetapi kerap dijajaki pendaki profesional.
Gunung Putri Lembang bukan hanya untuk dijajaki sesaat seperti yang sering saya lakukan, tetapi banyak orang yang singgah di gunung tersebut untuk berkemah. Bukan hanya dijajaki warga Bandung Raya, mereka yang tinggal di luar kota pun tertarik untuk camping di Gunung Putri Lembang.
Saya pribadi memang belum ada kesempatan untuk merasakan keseruan berkemah di Gunung Putri Lembang. Itu mengapa saya hanya healing sesaat sebelum beraktivitas kembali di siang hari hingga larut malam. Tepatnya pada Minggu (1/2/2026).
Berangkat Subuh dari Rumah
Jarak rumah saya dengan lokasi Gunung Putri Lembang sekitar 15 kilometer. Ingin sampai puncak sebelum matahari terbit, maka saya pun berangkat dari rumah sekitar pukul 04.15 WIB, mengenakan sepeda motor bersama rekan saya.
Ketika azan Subuh berkumandang, kami menghentikan perjalanan terlebih dahulu. Singgah di Masjid Besar Lembang untuk melaksanakan salat Subuh. Sedikit informasi, ternyata di masjid tersebut bukan hanya para pria yang melaksanakan salah Subuh berjamaah, melainkan ada pula kaum perempuan. Sehingga saya tidak merasa sendirian.
Tiba di Pos Tiket GBM Gunung Putri
Sekitar pukul 05.00 WIB, kami tiba di pos tiket GBM Gunung Putri. Kami harus membayar Rp30.000 untuk harga tiket masuk dua orang dan satu sepeda motor. Tentu harganya akan berbeda jika kita ingin berkemah di Gunung Putri Lembang. Di sana juga ada tempat sewa perlengkapan camping paket lengkap. Jadi tidak perlu khawatir jika kamu tidak mau ribet bawa perlengkapan dari rumah.
Sebelum memulai hiking, kami terlebih dahulu memanjatkan doa. Meskipun Gunung Putri Lembang terbilang ramah untuk semua golongan pendaki, tetapi tetap harus meminta kepada Tuhan untuk diberikan perlindungan dari segala jenis bahaya.
Berhenti di Blok A
Saya dan rekan saya menapakkan kaki di blok A sekitar pukul 05.12 WIB. Kami memang sengaja tidak terburu-buru sampai ke atas karena hari masih gelap. Saya memperhatikan blok B, C, dan D sebagai area camping. Banyak berdiri tenda-tenda yang menandakan banyak orang berkemah.
Jika melanjutkan perjalanan lebih ke atas lagi, kamu akan sampai di Puncak Tugu Sespim. Namun niat saya pada hari itu memang hanya ingin menikmati pergantian waktu subuh ke pagi hanya di blok A.
Secangkir Kopi di Atas Awan
Nikmat Tuhan mana lagi yang dapat didustakan. Menikmati secangkir kopi sambil menatap langit yang indah. Menyaksikan detik demi detik perubahan langit dari gelap menjadi jingga. Sebelum akhirnya terlihat langit biru yang cerah. Tanpa hujan di pagi hari seperti yang terjadi di Jawa Barat belakangan ini.
Pulang Membawa Candu dan Rindu
Setelah puas menikmati quality time sekitar dua jam di Gunung Putri Lembang. Saya dan rekan saya memutuskan untuk pulang dan turun lebih dulu dari pengunjung yang lain. Selain membawa tas yang lebih ringan karena berkurangnya beban, kami juga wajib membawa turun sampah. Lalu membuangnya ke bak sampah yang sudah disediakan.
Sesampainya di rumah, ternyata saya membawa rasa rindu dan candu. Ketagihan untuk kembali ke Gunung Putri Lembang. Next time, saya akan berkemah di sana. Hmmm, ngajak siapa, ya?
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.png)
Tidak ada komentar