Pertama
kali naik kereta api
Sebagai
seseorang yang lahir dan tumbuh di Bandung, mencintai Bandung dengan tulus, tak
pernah terbayangkan sebelumnya akan menyisakan ruang di hati saya untuk selalu
mengagumi Surabaya. Bahkan, ketika menuliskan kisah ini, rasa rindu saya pada
Surabaya masih menggebu-gebu. Hati dan pikiran saya mengenang petualangan yang
sangat singkat di Kota Pahlawan tersebut. Namun, memberikan banyak kenangan
yang sulit terlupakan. Salah satunya pengalaman saya melakukan perjalanan
Bandung-Surabaya bersama Kereta Api Indonesia (KAI).
Kisah
ini dimulai pada tahun 2013, ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah
Atas (SMA), tepatnya pada bulan Juli. Kala itu, untuk pertama kalinya saya
singgah dan berkelana di Surabaya. Menikmati momen liburan sekolah bersama Cia,
sahabat saya yang tinggal di kota tersebut. Saya berangkat ke Surabaya seorang
diri menggunakan Kereta Api Indonesia (KAI). Sangat bersemangat sekaligus
waswas, karena untuk pertama kalinya saya naik kereta api, antarkota pula.
Selama berminggu-minggu saya menabungkan sebagian uang jajan untuk membeli
tiket kelas ekonomi Kereta Api (KA) Pasundan. Sebagiannya lagi untuk uang bekal
selama liburan di Surabaya.
Berangkat
dari Stasiun Kiaracondong pada pukul 05.30 WIB, saya duduk tepat di sebelah
jendela, sesuai pilihan saya ketika membeli tiket atas nama Wini Nuriyah.
Tujuan saya memilih duduk di dekat jendela karena ingin melihat suasana di luar
kereta api selama perjalanan dan menikmati keindahan hamparan sawah yang
memanjakan mata. Maklum, rasa penasaran saya cukup tinggi untuk pengalaman
pertama tersebut. Saya ingat betul, ketika itu posisi kursi penumpang saling
berhadapan. Saya berhadap-hadapan dengan seorang wanita berusia sekitar 40
tahun. Sedangkan di sebelah saya dan wanita tersebut masih kosong. Formasi
tempat duduk kami menjadi lengkap ketika sepasang suami dan istri naik di
Stasiun Klaten. Meskipun terasa sempit, tidak masalah untuk saya. Apalagi mereka
yang ada di depan dan di sebelah saya begitu ramah ketika saya bertanya banyak
hal tentang Surabaya. Sesekali mereka juga menawarkan makanan, tetapi saya
menolaknya dengan halus karena saya juga membawa bekal makanan dari rumah.
Berbicara
mengenai makanan, di tahun 2013 masih banyak pedagang asongan yang hilir mudik di
dalam gerbong kereta. Setiap kali kereta api berhenti di stasiun-stasiun yang
dilewati, mereka bersama-sama naik ke dalam kereta, menjajakan makanan mulai
dari gorengan, air mineral, kopi seduh, nasi pecel, mie instan, dan lain
sebagainya. Keadaan seketika menjadi riuh, tetapi menurut saya masih terbilang
tertib, kok. Beberapa petugas keamanan tampak siap siaga, menjaga agar situasi
dan kondisi di dalam kereta tetap kondusif. Tak dipungkiri, sebagian penumpang
ada yang merasa terganggu karena tidak suka dengan kebisingan. Saya pribadi
merasa baik-baik saja, bahkan saya sempat membeli gorengan dan jajanan lainnya.
Ketika
saya bertransaksi dengan seorang pedagang asongan, pria di sebelah saya
berbisik. “Mbak, hati-hati, ya. Suka ada copet yang ikut masuk bareng
pedagang”.
Saya
mengangguk pelan, lalu spontan mendekap erat sling bag saya. Sebagai orang yang belum punya pengalaman naik
kereta api, apalagi ketika ketertiban dan keamanan di dalam kereta masih belum
terjamin, saya merasa terharu ketika para penumpang saling peduli satu sama
lain.
Ketika
tertidur pulas, saya juga merasa aman karena duduk bersama orang-orang yang
baik hatinya. Ya, selain makan, tidur adalah salah satu pilihan untuk menghabiskan
waktu di dalam kereta selama belasan jam. Sesekali saya juga berjalan menyusuri
gerbong kereta api untuk meluruskan kaki saya yang sangat pegal karena terlalu
lama menekuk. Ternyata, berbagai kalangan dari berbagai usia dengan senang hati
memilih kereta api untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Saya merasakan,
ada gerbong yang AC-nya tidak menyala. Ternyata, di tahun tersebut, untuk pemasangan
AC masih direalisasikan secara bertahap. Tertarik juga untuk merasakan suasana
toilet di dalam kereta api, tetapi anehnya selama perjalanan saya tidak ingin
buang air kecil ataupun buang air besar.
Empat
belas jam berlalu, akhirnya saya tiba di Stasiun Surabaya Gubeng. Selepasnya
saya turun dari kereta api, saya menelepon sahabat saya. Ia mengarahkan kemana
saya harus berjalan. Sambil mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Cia,
saya sambil memperhatikan suasana Stasiun Surabaya Gubeng. Wow, sebuah stasiun
kereta api terbesar dan teramai yang pernah saya liat. Sampai akhirnya, di pintu
keluar saya melihat Cia melambaikan tangannya ke arah saya. Saya mempercepat
langkah kaki, Cia pun berlari kecil menghampiri saya. Kami saling berpelukan
melepas rasa rindu. Kami terakhir kali bertemu ketika masih duduk di bangku
Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tinggal
bersama ayahnya di Surabaya, tepatnya di Kecamatan Wiyung.
Disambut
dengan baik oleh Cia dan keluarganya, selama satu minggu di Surabaya, mereka
mengajak saya mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti Kebun Binatang
Surabaya, Museum 10 Nopember dan Monumen Tugu Pahlawan, Pantai Kenjeran, dan
tentunya kulineran.
Liburan
telah usai, saatnya saya kembali ke Bandung. Membawa kenangan yang indah selama
di Surabaya, saya menggunakan KA Pasundan yang berangkat dari Stasiun Gubeng pukul
08.15 WIB, lalu tiba di Stasiun Kiaracondong pukul 22.22 WIB. Pada perjalanan
pulang, saya mulai terbiasa dengan suasana KA Pasundan. Sayangnya, pada saat
itu jejak perjalanan Bandung-Surabaya dan Surabaya-Bandung, tidak dapat
diabadikan melalui kamera handphone.
Dikarenakan ponsel saya jadul, hanya memiliki fitur dasar seperti menelepon dan
SMS. Namun, terekam dengan sangat jelas dan indah dalam hati dan pikiran saya.
Sambil
menatap syahdu ke luar jendela, hati ini bergumam. “Surabaya, saya akan
kembali.”
Sejenak kembali ke Surabaya
Lima
tahun berlalu, saya kembali ke Surabaya. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tujuan
utama saya hanya ingin naik kereta api dari Stasiun Kiaracondong pada pukul
05.35 WIB, lalu tiba di Stasiun Wonokromo pada pukul 21.32 WIB. Tentunya masih
setia dengan KA Pasundan. Banyak hal yang berubah. Salah satunya harga tiket
yang mengalami kenaikan, meskipun masih berstatus sebagai kereta ekonomi PSO
(subsidi).
Pada
tahun 2018, KA Pasundan sudah jarang sekali diramaikan oleh pedagang asongan
yang masuk ke dalam gerbong kereta api. Jujur, ada rasa rindu dengan
keriuhannya. Untungnya, saya membawa banyak perbekalan, dari mulai nasi, roti,
hingga minuman. Cukup untuk mengenyangkan perut selama perjalanan.
Saya
bermalam di sebuah penginapan di dekat Stasiun Wonokromo. Untuk kemudian
kembali pulang ke Bandung esok harinya. Tidak terlalu lama di Surabaya karena saya
hanya mendapatkan jatah cuti 2 hari dari perusahaan tempat saya bekerja. Ketika
perjalanan pulang menggunakan kereta yang sama, ada rasa sedih yang mendalam.
Saya tidak berani berjanji akan menginjakkan kaki lagi di Surabaya. Saya tidak
yakin bisa singgah lagi ke Surabaya. Kota yang sesungguhnya ingin saya tinggali
dalam jangka waktu yang sangat lama. Ya, bertahun-tahun atau mungkin puluhan
tahun.
Inspired by: Wini Nuriyah
Tidak ada komentar