Tak Terlupakan, Mengenang Perjalanan Bandung-Surabaya


ilustrasi rel kereta api (pexels.com/id-id/@dreamypixel/)

Pertama kali naik kereta api

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di Bandung, mencintai Bandung dengan tulus, tak pernah terbayangkan sebelumnya akan menyisakan ruang di hati saya untuk selalu mengagumi Surabaya. Bahkan, ketika menuliskan kisah ini, rasa rindu saya pada Surabaya masih menggebu-gebu. Hati dan pikiran saya mengenang petualangan yang sangat singkat di Kota Pahlawan tersebut. Namun, memberikan banyak kenangan yang sulit terlupakan. Salah satunya pengalaman saya melakukan perjalanan Bandung-Surabaya bersama Kereta Api Indonesia (KAI).

Kisah ini dimulai pada tahun 2013, ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), tepatnya pada bulan Juli. Kala itu, untuk pertama kalinya saya singgah dan berkelana di Surabaya. Menikmati momen liburan sekolah bersama Cia, sahabat saya yang tinggal di kota tersebut. Saya berangkat ke Surabaya seorang diri menggunakan Kereta Api Indonesia (KAI). Sangat bersemangat sekaligus waswas, karena untuk pertama kalinya saya naik kereta api, antarkota pula. Selama berminggu-minggu saya menabungkan sebagian uang jajan untuk membeli tiket kelas ekonomi Kereta Api (KA) Pasundan. Sebagiannya lagi untuk uang bekal selama liburan di Surabaya.

Berangkat dari Stasiun Kiaracondong pada pukul 05.30 WIB, saya duduk tepat di sebelah jendela, sesuai pilihan saya ketika membeli tiket atas nama Wini Nuriyah. Tujuan saya memilih duduk di dekat jendela karena ingin melihat suasana di luar kereta api selama perjalanan dan menikmati keindahan hamparan sawah yang memanjakan mata. Maklum, rasa penasaran saya cukup tinggi untuk pengalaman pertama tersebut. Saya ingat betul, ketika itu posisi kursi penumpang saling berhadapan. Saya berhadap-hadapan dengan seorang wanita berusia sekitar 40 tahun. Sedangkan di sebelah saya dan wanita tersebut masih kosong. Formasi tempat duduk kami menjadi lengkap ketika sepasang suami dan istri naik di Stasiun Klaten. Meskipun terasa sempit, tidak masalah untuk saya. Apalagi mereka yang ada di depan dan di sebelah saya begitu ramah ketika saya bertanya banyak hal tentang Surabaya. Sesekali mereka juga menawarkan makanan, tetapi saya menolaknya dengan halus karena saya juga membawa bekal makanan dari rumah.

Berbicara mengenai makanan, di tahun 2013 masih banyak pedagang asongan yang hilir mudik di dalam gerbong kereta. Setiap kali kereta api berhenti di stasiun-stasiun yang dilewati, mereka bersama-sama naik ke dalam kereta, menjajakan makanan mulai dari gorengan, air mineral, kopi seduh, nasi pecel, mie instan, dan lain sebagainya. Keadaan seketika menjadi riuh, tetapi menurut saya masih terbilang tertib, kok. Beberapa petugas keamanan tampak siap siaga, menjaga agar situasi dan kondisi di dalam kereta tetap kondusif. Tak dipungkiri, sebagian penumpang ada yang merasa terganggu karena tidak suka dengan kebisingan. Saya pribadi merasa baik-baik saja, bahkan saya sempat membeli gorengan dan jajanan lainnya.

Ketika saya bertransaksi dengan seorang pedagang asongan, pria di sebelah saya berbisik. “Mbak, hati-hati, ya. Suka ada copet yang ikut masuk bareng pedagang”.

Saya mengangguk pelan, lalu spontan mendekap erat sling bag saya. Sebagai orang yang belum punya pengalaman naik kereta api, apalagi ketika ketertiban dan keamanan di dalam kereta masih belum terjamin, saya merasa terharu ketika para penumpang saling peduli satu sama lain.

Ketika tertidur pulas, saya juga merasa aman karena duduk bersama orang-orang yang baik hatinya. Ya, selain makan, tidur adalah salah satu pilihan untuk menghabiskan waktu di dalam kereta selama belasan jam. Sesekali saya juga berjalan menyusuri gerbong kereta api untuk meluruskan kaki saya yang sangat pegal karena terlalu lama menekuk. Ternyata, berbagai kalangan dari berbagai usia dengan senang hati memilih kereta api untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Saya merasakan, ada gerbong yang AC-nya tidak menyala. Ternyata, di tahun tersebut, untuk pemasangan AC masih direalisasikan secara bertahap. Tertarik juga untuk merasakan suasana toilet di dalam kereta api, tetapi anehnya selama perjalanan saya tidak ingin buang air kecil ataupun buang air besar.

Empat belas jam berlalu, akhirnya saya tiba di Stasiun Surabaya Gubeng. Selepasnya saya turun dari kereta api, saya menelepon sahabat saya. Ia mengarahkan kemana saya harus berjalan. Sambil mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Cia, saya sambil memperhatikan suasana Stasiun Surabaya Gubeng. Wow, sebuah stasiun kereta api terbesar dan teramai yang pernah saya liat. Sampai akhirnya, di pintu keluar saya melihat Cia melambaikan tangannya ke arah saya. Saya mempercepat langkah kaki, Cia pun berlari kecil menghampiri saya. Kami saling berpelukan melepas rasa rindu. Kami terakhir kali bertemu ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di Surabaya, tepatnya di Kecamatan Wiyung.

Disambut dengan baik oleh Cia dan keluarganya, selama satu minggu di Surabaya, mereka mengajak saya mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti Kebun Binatang Surabaya, Museum 10 Nopember dan Monumen Tugu Pahlawan, Pantai Kenjeran, dan tentunya kulineran.

Liburan telah usai, saatnya saya kembali ke Bandung. Membawa kenangan yang indah selama di Surabaya, saya menggunakan KA Pasundan yang berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 08.15 WIB, lalu tiba di Stasiun Kiaracondong pukul 22.22 WIB. Pada perjalanan pulang, saya mulai terbiasa dengan suasana KA Pasundan. Sayangnya, pada saat itu jejak perjalanan Bandung-Surabaya dan Surabaya-Bandung, tidak dapat diabadikan melalui kamera handphone. Dikarenakan ponsel saya jadul, hanya memiliki fitur dasar seperti menelepon dan SMS. Namun, terekam dengan sangat jelas dan indah dalam hati dan pikiran saya.

Sambil menatap syahdu ke luar jendela, hati ini bergumam. “Surabaya, saya akan kembali.”

Sejenak kembali ke Surabaya

Lima tahun berlalu, saya kembali ke Surabaya. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tujuan utama saya hanya ingin naik kereta api dari Stasiun Kiaracondong pada pukul 05.35 WIB, lalu tiba di Stasiun Wonokromo pada pukul 21.32 WIB. Tentunya masih setia dengan KA Pasundan. Banyak hal yang berubah. Salah satunya harga tiket yang mengalami kenaikan, meskipun masih berstatus sebagai kereta ekonomi PSO (subsidi).

Pada tahun 2018, KA Pasundan sudah jarang sekali diramaikan oleh pedagang asongan yang masuk ke dalam gerbong kereta api. Jujur, ada rasa rindu dengan keriuhannya. Untungnya, saya membawa banyak perbekalan, dari mulai nasi, roti, hingga minuman. Cukup untuk mengenyangkan perut selama perjalanan.

Saya bermalam di sebuah penginapan di dekat Stasiun Wonokromo. Untuk kemudian kembali pulang ke Bandung esok harinya. Tidak terlalu lama di Surabaya karena saya hanya mendapatkan jatah cuti 2 hari dari perusahaan tempat saya bekerja. Ketika perjalanan pulang menggunakan kereta yang sama, ada rasa sedih yang mendalam. Saya tidak berani berjanji akan menginjakkan kaki lagi di Surabaya. Saya tidak yakin bisa singgah lagi ke Surabaya. Kota yang sesungguhnya ingin saya tinggali dalam jangka waktu yang sangat lama. Ya, bertahun-tahun atau mungkin puluhan tahun.

Inspired by: Wini Nuriyah








Tidak ada komentar