Sumber: Dokumen Pribadi
"Bersama sahabat, sebuah perjalanan yang penuh tantangan menjadi lebih mudah untuk dilalui."
Menjalani rutinitas sehari-hari sebagai seorang perempuan yang harus bergelut dengan pekerjaan rumah, tetapi juga berkarier di luar rumah, memicu rasa jenuh dan bosan lebih cepat terasa. Itu tandanya, jiwa dan raga ini membutuhkan refreshing ke sebuah tempat yang dirindukan.
Pada Sabtu (17/1/2026), saya bersama seorang sahabat memutuskan untuk pergi satmori alias saturday morning ride. Pada pukul 05.30 WIB, kami memulai perjalanan dari rumahku di Kabupaten Bandung Barat menuju Ciwidey. Sebuah desa di Kabupaten Bandung yang memiliki keindahan alam menakjubkan. Tentu ini bukan untuk pertama kalinya saya menjelajahi desa yang populer di kalangan wisatawan tersebut. Memang bikin ketagihan, meskipun harus menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer.
Seperti apa keseruannya? Simak ulasannya berikut ini, yuk!
Sarapan Bubur Ayam Favorit
Sumber: Dokumen Pribadi
Di perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung, kami berhenti sejenak di pedagang kaki lima bubur ayam yang kerap saya singgahi setiap kali pergi ke Ciwidey. Selain rasanya yang lezat, harganya juga terjangkau. Itu menurut saya sebagai seorang pecinta bubur ayam. Dengan harga 12.000 rupiah, saya sudah bisa menikmati semangkuk bubur dengan topping ayam goreng suwir, telur rebus, kacang goreng, dan pelengkap lainnya.
Terkadang saya merasa belum kenyang dengan satu porsi bubur ayam tersebut. Namun, alangkah baiknya jika saya menyisakan ruang dalam perut untuk menerima makanan lainnya yang pasti akan saya cicipi selama perjalanan.
Berteduh dan Jajan saat Hujan
Di momen satmori kali ini, wilayah Bandung Raya sedang dilanda musim hujan. Tak heran jika air hujan sudah mulai turun sejak pagi hari. Untungnya, hanya hujan gerimis yang membasahi Ciwidey dan sekitarnya pada hari itu. Sehingga perjalanan tetap aman untuk dilanjutkan. Namun kami memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah warung untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan.
Saya memesan secangkir cokelat hangat, sedangkan sahabat saya lebih menyukai kopi. Katanya, agar tidak cepat mengantuk selama mengendarai motor. Bukan hanya kami berdua, beberapa wisatawan lainnya juga ikut berteduh. Kami dilayani dengan ramah oleh seorang nenek yang terlihat semringah karena banyak yang jajan di warungnya.
Menikmati Keindahan Kebun Teh Rancabali
Perkebunan teh Rancabali menjadi salah satu daya tarik yang dimiliki Ciwidey. Meningkatkan minat para wisatawan dari berbagai kota di Indonesia untuk menikmati momen liburan di Ciwidey. Mata kami disuguhi hamparan hijau kebun teh di sisi kiri dan kanan jalan. Udaranya yang sejuk dan kabut tipis melengkapi suasana syahdu tersebut.
Kami tak mungkin lupa untuk mengabadikan keseruan menyusuri Kebun Teh Rancabali. Tak perlu bingung dan repot, akan banyak fotografer yang memotret para pengendara motor dan mobil yang melewati kawasan perkebunan teh. Terutama di momen-momen liburan. Selain menjadi sumber rezeki untuk mereka, wisatawan juga akan memiliki foto yang bagus dan estetik. Menarik untuk diunggah di media sosial, lho.
Terbius Keunikan Curug Ceret Naringgul
Tanpa sebuah perancanaan, perjalanan ke Ciwidey kali ini mendorong saya dan sahabat untuk melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Cianjur. Kami hanya ingin menyusuri jalanan sejauh mungkin, selagi masih aman dan nyaman. Apalagi kondisi jalanan beraspal mulus, meskipun dengan kontur menantang. Jalanan berkelok-kelok, juga menanjak dan menurun. Jujur, membuat saya sedikit mual dan pusing. Sedangkan sahabat saya tampak menikmati perannya sebagai driver.
Sampai pada akhirnya kami tiba di sebuah lokasi yang mencuri perhatian. Kami melihat curug atau air terjun yang berada tepat di pinggir jalan, yakni Curug Ceret. Kata 'ceret' diambil dari bahasa Sunda yang artinya cipratan. Itu karena setiap pengguna jalan yang melewati lokasi tersebut akan terciprat air dari Curug Ceret. Letaknya memang tidak seperti curug pada umumnya yang berada di dalam hutan.
Makan Siang yang Berkesan
Sumber: Dokumen Pribadi
Setelah sejenak menikmati suasana di Curug Ceret, saya dan sahabat memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh. Selain sudah lumayan lelah, kami tidak ingin sampai ke rumah pada malam hari. Namun karena kami sudah kembali lapar, perjalanan pulang terhenti sejenak di sebuah rumah makan yang diketahui menjual berbagai makanan khas Sunda.
Sahabat saya memesan satu porsi nasi, ayam goreng, tahu dan tempe goreng, sambal, serta lalapan. Sedangkan saya tergiur dengan semangkuk mie kuah yang dilengkapi telur. Menjadi lebih berkesan karena dimanjakan dengan pemandangan pegunungan yang menakjubkan. Dari atas terlihat juga jalanan aspal yang tadi kami lewati.
Setelahnya, kami kembali bersemangat melanjutkan perjalanan pulang. Dari rumah ke lokasi Curug Ceret, lalu kembali lagi ke rumah, kami harus menempuh jarak 168 kilometer. Tentu akan ada perjalanan selanjutnya untuk mengeksplorasi Ciwidey lebih luas lagi.
Terimakasih sudah mampir ke ciwidey dan mensuport para fhotograper🙏🏻🤩
BalasHapusTerima kasih juga untuk foto foto kerennya, kak.
HapusSeru bgt. Jadi pengen motoran gitu duh.
BalasHapusYuk, touring, teh.
HapusHarus jadi rutinitas satmori atau sanmorian setiap bulan kyanyaa 🥰
BalasHapusBetul betul betul. Hehehe
Hapus